Apakah Kita Membutuhkan Sekuel Avatar?

avatar

James Cameron mengumumkan 3 sekuel lagi untuk film terbesarnya dari tahun 2009

Tahun 2009 diisi dengan film-film hebat yang memorable. Reboot sukses franchise Star Trek, buddy comedy The Hangover, film animasi Up, indie hit 500 Days of Summer, adaptasi komik The Watchmen, hingga drama perang QT, Inglorious Basterds. Tapi, di akhir tahun 2009, monster hit garapan James Cameron, Avatar, datang memecahkan semua rekor box office yang ada. Para makhluk biru Na’vi seketika menjadi fenomena global. Bertepatan dengan kebangkitan kembali film 3D, Avatar berhasil memukau penonton dengan memaksimalkan teknik stereoscopic, yang membuat tampilan 3D Avatar begitu “dalam” dan nyata. Belum pernah ada film lain yang mencapai kesempurnaan teknis seperti ini sebelumnya. Hasilnya: penonton yang berbondong-bondong menuju bioskop untuk menyaksikan sendiri bagaimana sejarah dalam dunia perfilman sedang dibuat dan pada awal 2010, Avatar berhasil memecahkan rekor box office sepanjang masa yang dipegang “kakaknya” sendiri, Titanic, sejak tahun 1997.

Lalu pada ajang CinemaCon tahun ini, James Cameron mengumumkan akan membuat, tidak hanya satu, tapi 3 sekuel lagi untuk Avatar dengan rencana rilis pada tahun 2018 s.d. 2022. Sebuah langkah ambisius, yang tentu saja, sah-sah saja dilakukan oleh James Cameron. Ini adalah James Cameron! Sutradara dibalik Terminator, Aliens, dan tentu saja Titanic. Siapa lah kita untuk melarangnya apabila, misalnya, dia berkata ingin membuat Titanic 2. Tapi, tetap saja ada satu pertanyaan yang mengganjal pikiran saya, apakah sekuel Avatar memang diperlukan?

Box office

Mau tidak mau, harus diakui bahwa Avatar adalah suatu fenomena. Dibandingkan dengan film-film laris yang lain, Avatar muncul tanpa embel-embel apa pun. Tidak diangkat dari kisah nyata (Titanic), tidak diadaptasi dari buku ataupun komik superhero apa pun (The Dark Knight, Avengers), dan bukan bagian dari franchise dengan fan base kuat (Jurassic World, Star Wars eps. I dan VII). Yang serupa mungkin hanya Star Wars original, yang saat pertama kali dirilis juga menjadi fenomena di seluruh belahan dunia. Namun, ada suatu perbedaan yang menurut saya cukup “aneh” dari Avatar, yang tidak ada di film-film lain yang disebut di atas. Kita akan membahas itu nanti.

Pertama-tama mari kita bahas Avatar dari aspek lain selain aspek teknisnya yang memang standout. Dari segi cerita, adakah yang istimewa dari Avatar? No. Tidak ada sesuatu yang baru atau inovatif di sini. Sekelompok explorer menemukan dunia baru, mendapat resistensi dari penduduk aslinya. Sang tokoh utama jatuh cinta pada gadis dari penduduk asli. Sounds familiar? Yes. Avatar adalah “Pocahontas in Space”, kisah klasik yang mungkin sudah diceritakan berulang kali dalam berbagai bentuk media dan adaptasi, dan dalam kasus Avatar, itu artinya sudah tertebak. Oke, mungkin itu bukan hal buruk. Cerita tertebak tidak serta merta membuat film menjadi jelek atau tidak menarik. Berikan ia dialog yang kuat, karakter yang menarik serta akting memikat, maka film dengan ending paling tertebak sekalipun akan memuaskan penonton. Lalu apakah hal tersebut dimiliki Avatar? Sayangnya tidak. Avatar mengandalkan filmnya pada dialog yang terlupakan dan karakter utama yang membosankan pada diri Sam Worthington dan Zoe Saldana dalam motion capture. Begitu juga dengan karakter lain yang typical dan sepertinya hanya menjadi pelengkap saja. Menonton Avatar adalah sebuah perjuangan, durasinya hampir mencapai 3 jam, ditambah dengan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, wajar saja banyak penonton yang mulai tertidur sejak pertengahan film. Atau, lebih tepatnya, saya yang tertidur sejak pertengahan film.

Ajaibnya, hal-hal tersebut tidak menghentikan Avatar menajdi film terlaris pada tahun 2009, yang artinya ada orang-orang yang menontonnya lebih dari satu kali. Nah, di sinilah “keanehan” Avatar dibanding film-film laris lainnya seperti yang saya nyatakan di paragraf sebelumnya. Setelah segala kehebohan di medio akhir 2009 hingga menjelang musim panas 2010, Avatar “menghilang” tanpa jejak. Tak banyak yang bisa diingat orang selain dari makhluk-makhluk biru Na’vi, yang jika dicermati lagi, didesain dengan kurang menarik dan mudah terlupakan. Avatar tidak mempunyai die hard fan base seperti Star Wars, tidak juga punya karakter-karakter ikonik seperti Jack and Rose atau The Joker milik Heath Ledger. At least Jurassic World punya Bryce-Dallas Howard dengan high heelsnya. Avatar bagaikan Danny Ocean dan komplotannya, yang menguras isi “brankas” anda lalu kemudian menghilang. Gone. Hingga akhirnya beberapa minggu lalu, James Cameron muncul kembali untuk mengingatkan kembali hari dimana saya keluar dari bioskop dan berkata pada diri sendiri: “What the hell is that?!” diiringi perasaan bodoh penuh sesal. Apakah kita perlu sekuel Avatar? Saya akan berkata tidak.

Bagaimana dengan anda sendiri? Mari berbagi pendapat di kolom komentar di bawah tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s